KUNCI MENGGAPAI MANISNYA IMAN




KUNCI MENGGAPAI MANISNYA IMAN

عن أنس رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ((ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان : أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما ، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله ، وأن يكره أن يعودفي الكفر بعد أن أنقذه الله منه ، كما يكره أن يقذف في النار )) متفق عليه

Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tiga hal barangsiapa tiga hal itu ada dalam dirinya, maka ia dengannya akan mendapatkan manisnya iman; hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih  ia cintai daripada selainnya, hendaknya mencintai seseorang dengan tidak mencintainya melainkan karena Allah, dan hendaknya merasa benci kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkan dirinya dari kekafiran itu sebagaimana kebenciannya jika dirinya akan dilemparkan ke dalam api neraka” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

SEKILAS ANAS BIN MALIK

Nama beliau adalah Anas bin Malik bin Nadri bin Damdam bin Zaid bin Hiram bin Jundab bin Amir bin Ghanam bin Adiyyi bin An-Najjar Al-Anshari. Kunyah beliau Radhiyallahu ‘anhu adalah Abu Umayyah, sedangkan laqabnya adalah Al-Ka’bi Al-Qusyairi. Ibunya adalah seorang shahabiyah yang mulia, yaitu Ummu Sulaim binti Milhan bin Zaid bin Mihran, sedangkan ayahnya bernama Malik bin An-Nadhr.

Anas bin Malik lahir di Madinah. Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah, Ummu Sulaim menhadap kepada Rasulullah dan menawarkan agar Anas bin Malik yang ketika itu berusia 10 tahun dijadikan sebagai pelayan untuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyetujuinya, maka jadilah Anas bin Malik menjadi seorang anak kecil yang hidup dalam naungan rumah tangga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagai seorang yang hidup dilingkungan keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Anas bin Malik banyak meriwayatkan hadits-hadits dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau meriwayatkan hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebanyak 2.286 hadits dan telah diriwayatkan oleh anak-anaknya; Musa Al-Nadir dan Abu Bakar, serta oleh murid-muridnya dari kalangan tabi’in; Ja’far bin Abdullah, Muhammad bin Sirrin, Ibnu Syihab, Amru bin Abi Amru.

Beberapa komentar berisikan pujian dari para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ulama setelahnya terhadap Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu diantaranya; komentar Umar bin Khattab ketika dimintai pendapatnya oleh Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhum tentang pengangkatan Anas bin Malik sebagai pegawai di Bahrain, Umar memujinya “Dia seorang anak muda yang cerdas dan bisa baca tulis, dan juga lama bergaul dengan Rasulullah” . Adapun komentar Abu Hurairah terhadap Anas bin Malik, “Aku belum pernah melihat orang lain yang shalatnya menyerupai Rasulullah kecuali Ibnu Sulaiman (Anas bin Malik)”. Muwarriq berkata setelah Anas bin Malik meninggal di Bashrah, “Telah hilang separuh ilmu. Jika ada orang yang suka memperturutkan kesenangannya bila berselisih dengan kami, kami berkata kepadanya, ‘Marilah menghadap kepada orang yang pernah mendengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam’.”

Anas bin Malik meninggal pada tahun 93 H di Bashrah. Ketika anas bin Malik wafat, usianya telah mencapai 107 tahun. Maka jelaslah bahwa do’a Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Anas bin Malik dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, dimana Rasulullah berdo’a untuknya, “Ya Allah perbanyaklah anak dan hartanya, serta masukkanlah ia kedalam surga.” Dalam riwayat yang lain Rasulullah berdo’a, “Ya Allah perbanyaklah anak dan hartanya, panjangkanlah umurnya dan ampunilah dosanya.”

PENJELASAN SINGKAT

Siapa saja bersifat dengan ketiganya, maka ia akan mendapatkan manisnya iman. Ia akan menemukan kelapangan, kecintaan kepada kebaikan, kecintaan kepada ahli kebaikan didalam dadanya. Kebaikan yang tidak diketahui melainkan oleh orang yang sebelumnya belum pernah menemukannya.

Dalam hal ini dikatakan bahwa hendaknya Allah dan Rasulnya adalah dzat yang paling ia cintai daripada selain keduanya. Tidak dikatakan, “Kemudian Rasul-Nya”, karena cinta kepada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu ikut dan muncul dari kecintaan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Maka tidak boleh mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Allah, karena itu merupakan bentuk kesyirikan, akan tetapi mencintai Rasulullah harus dengan dasar karena Allah Subhanahu wa ta’ala.

Selanjutnya, hendaknya mencintai seseorang tiada lain karena Allah, bukan mencintai karena kekerabatan, harta, kemuliaan atau sesuatu dari dunia, akan tetapi mencintainya karena Allah Subhanahu wa ta’ala.

Kemudian dikatakan dalam hadits tersebut bahwa hendaknya pula ia tidak suka kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya darinya. Ini adalah sebuah kenyataan bagi orang yang dahulu kafir lalu memeluk islam. Akan tetapi orang yang sudah dilahirkan dalam keadaan Islam maka harus benci masuk ke dalam kekafiran setelah Allah menganugerahkan kepadanya Islam sebagaimana kebenciannya jika dipaksa untuk dilemparkan kedalam api. Yakni jika ia harus dilemparkan ke dalam api, maka hal itu sepele dibandingkan jika dirinya harus menjadi kafir setelah menjadi seorang muslim. Sedangkan orang yang dipaksa untuk kafir, lalu ia menjadi kafir dalam lahiriahnya dan tetap beriman dalam hatinya, maka yang demikian tidak membahayakan dirinya. Hal ini Allah jelaskan dalam firman-Nya pada surat An Nahl ayat 106. (Red-HASMI)

Wallahu Ta’ala ‘Alam



Tidak ada komentar