AL-ISLAM


AL-ISLAM


Untuk beribadah kepada Alloh subhanahu wata’ala dan untuk mencapai keridoan-Nya, Alloh subhanahu wata’ala hanya menurunkan satu agama kepada hamba-hamba-Nya, sejak awal penciptaan manusia hingga hari kiamat kelak, yaitu agama Islam. Seluruh nabi, dari Nabi Adam ‘alaihissalam sampai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, hanya membawa dan mendakwahkan agama Islam. Itulah sirotul-mustaqim.

Inti agama Islam adalah “berserah diri secara total kepada Alloh subhanahu wata’ala, mengesakan-Nya, mengagungkan-Nya dan mencintai-Nya dengan mengikuti wahyu dan syariat-Nya”. Hakikat sesuatu yang diajarkan oleh Islam tidak akan pernah berubah, sejak Nabi Adam alaihissalam sampai Nabi Muhammad   dan hingga hari kiamat. Adapun syariat yang diturunkan Alloh subhanahu wata’ala, yaitu cara beribadah, tempat dan kadar peribadatan serta peraturan kemasyarakatan, bahkan hukum halal dan haram, masih bisa berbeda antara satu rosul dengan yang lainnya. 

Nabi Musa alaihissalam adalah nabi Islam, beragama Islam dan men-dakwahkan Islam serta para pengikutnya adalah orang-orang Islam, bukan orang-orang Yahudi. Sedangkan agama Yahudi adalah agama batil yang dianut oleh orang-orang yang menyelisihi ajaran yang dibawa oleh Nabi Musa alaihissalam. Alloh berfirman, “Musa Berkata: ‘Wahai kaum, jika kalian beriman kepada Alloh, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kalian benar-benar orang-orang islam (muslimin).” [QS. Yunus (10): 84] 

Demikian pula halnya dengan Nabi Isa alaihissalam dan para pengikutnya yang setia, mereka adalah kaum muslimin sedangkan para penyelisihnya yang dinamakan umat Kristiani dengan agama mereka (Kristen), mereka adalah kaum musyrikin.

Alloh subhanahu wata’ala berfirman: “Tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail), ia berkata: ‘Siapakah yang siap menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Alloh?’, para hawariyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: ‘Kamilah penolong-penolong (agama) Alloh, kami beriman kepada Alloh; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang Islam.” [QS. Ali ‘Imron: 52]. 

Pada waktu yang sama, Alloh   menolak semua agama selain Islam, walaupun bertujuan atau ditujukan untuk mendapatkan keridoan-Nya.  
Alloh berfirman, “Barangsiapa menganut agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” [QS. Ali ‘Imron: 85]

Islam sebagai agama yang sempurna memberi pedoman hidup kepada umat manusia mencakup aspek-aspek aqidah, ibadah, akhlak, dan mu’amalat atau kehidupan bermasyarakat. Semuanya terangkai dalam syari’at Islam yang intinya terdiri dari dua bagian pokok, yaitu:
1.  Aqidah, yaitu pandangan dan keyakinan ajaran yang diyakini oleh hati.
2.  Amaliyah, yaitu praktek nyata ibadah dengan lisan dan atau anggota badan sebagai wujud keyakinan hati.

Sumber norma dan nilai yang pokok dalam Islam adalah:
1.  Al-Qur’an
Al-Qur’an merupakan sumber asasi pertama bagi aqidah dan amaliyah dalam Islam yang berupa wahyu (firman) Alloh untuk seluruh umat manusia.
2.  As-Sunnah
As-Sunnah adalah sumber asasi kedua dalam Islam yang mencakup seluruh perbuatan, perkataan dan seluruh aspek kehidupan Nabi Muhammad dalam menafsirkan dan mewujudkan al-Qur’an . Kesempurnaan itu terpelihara dalam hadits-hadits beliau yang dijaga oleh ulama-ulama kaum muslimin. Di antara kitab-kitab tersebut adalah:
a.  Shohih Bukhori     e. Sunan Tirmidzi
b.  Shohih Muslim     f. Sunan Ibnu Majah  
c.  Sunan Abu Dawud     g. Sunan Nasa’i
d.  Musnad Ahmad

Keistimewaan-Keistimewaan Agama Islam
1.  Agama Islam adalah agama yang benar, karena berasal dari yang Maha Benar, yaitu Alloh dan merupakan satu-satunya agama yang diterima Alloh. Mencari kebenaran dari selain Islam hanya akan menyebabkan kerugian serta tidak akan diterima di sisi Alloh. (Lihat: QS. Ali ‘Imron: 19 dan QS. Ali ‘Imron: 85)

2.  Agama Islam yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad adalah agama sempurna yang tidak lagi memerlukan tambahan dan pengurangan sedikitpun juga. Hal itu sebagai wujud dari kesempurnaan kenikmatan yang Alloh berikan. Upaya untuk menambah atau mengurangi agama Islam berarti menganggap agama ini belum sempurna. (Lihat: QS. al-Ma’idah [5]: 3)

Alloh telah menyempurnakan agama bagi mereka, sehingga mereka tidak membutuhkan agama selainnya dan tidak butuh kepada nabi selain Nabi Muhammad. Untuk itu, Alloh menjadikan Beliau sebagai penutup para Nabi dan mengutusnya kepada seluruh manusia dan jin.

Maka tidak ada sesuatu yang halal kecuali apa yang telah dihalalkannya, tidak ada sesuatu yang haram kecuali apa yang telah diharamkannya, dan tidak ada agama kecuali apa yang telah disyari’atkannya. (Tafsir Ibnu Katsir: 2/19)

Abu Dzar berkata: “Rosululloh telah (pergi) meninggalkan kami (wafat), tidak ada seekor burungpun yang (terbang) mengepakkan kedua sayapnya di udara, melainkan Beliau telah menerangkan ilmunya kepada kami. Lalu Abu Dzar berkata lagi: Rosululloh telah bersabda: Tidak ada sesuatu pun yang mendekatkan (kalian) ke surga dan menjauhkan (kalian) dari neraka melainkan sesungguhnya telah dijelaskan kepada kalian dengan sejelas-jelasnya.” (HR. Thobroni)

3.  Islam adalah agama seluruh nabi dan rosul. Penamaan agama para rosul dengan Islam langsung diberikan oleh Alloh dan bukan penamaan yang diberikan oleh selain-Nya. (Lihat: QS. al-Anbiya’: 92 & QS. al-Hajj: 78)

4.  Agama Islam telah sempurna karena keumuman risalahnya untuk seluruh manusia sepanjang zaman. Islam tidak terikat kepada satu kaum, bangsa atau pada  zaman tertentu. Untuk itu, Islam senantiasa relevan untuk setiap masa, tempat dan umat. Hal itu berarti bahwa berpegang teguh pada Islam tidak akan menghilangkan kemaslahatan umat di setiap waktu dan tempat. Bahkan dengan Islam, umat akan menjadi baik, tetapi bukan berarti Islam tunduk pada waktu, tempat dan umat.

Alloh  berfirman: “Dan Kami tidak mengutusmu melainkan untuk seluruh manusia” (QS. Saba’[34]: 28)
Alloh berfirman: “Katakanlah (wahai Muhammad) “Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Alloh kepada kalian semua.” (QS. al-A’rof [7]: 185)
Rosululloh bersabda: “Dahulu para nabi diutus khusus kepada kaumnya saja, sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia.” (HR. Bukhori)


Tidak ada komentar