KEJUJURAN ADALAH BUKTI KEIMANAN



KEJUJURAN ADALAH BUKTI KEIMANAN

Kejujuran merupakan ciri khas dan karakteristik orang-orang yang beriman kepada Alloh Ta’ala dan Rosululloh Sholallohu ‘alaihi Wassalam.
Alloh Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Alloh dan Rosul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Alloh. Mereka itulah orang-orang yang jujur.” (QS. al-Hujurat [49]: 15)

Oleh karena itu, siapa saja yang telah menyatakan beriman kepada Alloh dan meyakini kebenaran risalah yang dibawa oleh Rosululloh Sholallohu ‘alaihi Wassalam hendaknya ia selalu siap untuk berjuang dengan harta dan jiwanya serta menjadikan kejujuran sebagai perangai akhlaknya yang ia munculkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai wujud implementasi keimanan yang ada dalam jiwanya.

Alloh Ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar senantiasa bergaul dan berinteraksi dengan orang-orang yang jujur (shiddiqin) dan untuk selalu berada di atas kejujuran dalam setiap perilaku dan keadaannya.
Alloh Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh, dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang jujur.”  (QS. at-Taubah [9]: 119)

Karena hidup bersama orang-orang yang jujur di lingkungan mereka, tentunya sedikit banyak akan memberikan kontribusi positif dalam pembinaan karakter seseorang yang memang membutuhkan waktu yang lama untuk ditempa. Sehingga seseorang yang sudah meyakini kebenaran Islam akan memiliki karakter akhlak yang mulia dengan mencontoh Rosululloh Sholallohu ‘alaihi Wassalam yang telah Alloh Ta’ala jadikan sebagai figur yang harus dijadikan suri teladan bagi mereka.

Termasuk bukti keutamaan kejujuran dan orang-orang yang jujur adalah dahsyatnya bencana dan adzab yang harus diterima oleh para pendusta, yaitu orang-orang yang tidak jujur.
Alloh Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Alloh (al-Qur’an), Alloh tidak akan memberi petunjuk kepada mereka dan bagi mereka adzab yang pedih. Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Alloh, dan mereka itulah para pendusta.” (QS. an-Nahl [16]: 104-105).

Jujur adalah media kebaikan (birr) dan jalan menuju surga. Sedangkan bohong adalah sarana kezhaliman dan jalan menuju neraka.
Rosululloh Sholallohu ‘alaihi Wassalam bersabda:
إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا، وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ، حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan seseorang kepada kebaikan, dan kebaikan itu sendiri akan mengantarkan pelakunya menuju surga. Oleh karena itu, bila seseorang benar-benar telah berlaku jujur, maka ia dicatat di sisi Alloh sebagai orang yang jujur. Sebaliknya, kebohongan akan mengantarkan seseorang kepada kezhaliman, dan kezhaliman itu sendiri akan mengantarkan pelakunya menuju neraka. Maka, bila seseorang telah benar-benar berbuat dusta, maka iapun akan dicatat di sisi Alloh sebagai pendusta.”  (HR. Bukhori dan Muslim)

Orang yang jujur akan hidup berdampingan dengan para nabi, para syuhada, dan orang-orang sholeh.
Alloh Ta’ala berfirman, “Dan barangsiapa yang menaati Alloh dan Rosul-(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Alloh, yaitu para nabi, para shiddiqin (orang-orang yang jujur), orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang sholeh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”  (QS. an-Nisa’ [4]: 69).

Kejujuran akan mendatangkan berkah.
Rosululloh Sholallohu ‘alaihi Wassalam bersabda:
البَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُوْرِكَ لَهُمَا فِيْ بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَّبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا  

“Penjual dan pembeli memiliki pilihan sebelum mereka berdua berpisah.  Jika keduanya berkata jujur dan menjelaskan (kekurangannya), maka jual beli mereka diberkahi. Namun jika keduanya menyembunyikan (kekurangan) dan berbohong, maka dihapus keberkahan jual beli mereka berdua.”  (HR. Bukhori).

Kejujuran akan memberikan ketenangan dan ketentraman jiwa.
Rosululloh Sholallohu ‘alaihi Wassalam bersabda:
دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِيْنَةٌ، وَالْكَذْبُ رِيْبَةٌ

“Tinggalkanlah perkara yang meragukanmu kepada yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran adalah ketenangan, dan bohong adalah kecemasan.”  (HR. at-Tirmidzi, dishohihkan al-Albani).

Jujur merupakan salah satu tanda keimanan, petunjuk yang kuat adanya iman dalam hati pelakunya, dan bukti murni atas keeksisannya.
Tidak ada seorang Muslim pun yang naik ke tingkatan para shiddiqin (orang-orang yang jujur) kecuali hal itu baik baginya dan menjadikan dirinya berhak untuk mendapatkan pujian dan pahala yang besar.
Alloh   berfirman: “Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Alloh. Maka, di antara mereka ada yang gugur dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu serta mereka tidak merubah (janjinya). Supaya Alloh memberikan balasan kepada orang-orang yang jujur itu karena kejujurannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Alloh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”  (QS. al-Ahzab [33]: 23-24).

Ayat ini turun berkenaan dengan Anas bin Nadhar sebagaimana yang disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir tentang ayat ini yang berdasarkan pada riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari hadits Anas bin Malik.
Dalam riwayat Ibnu Abi Hatim   dari Anas bin Malik   bahwa pamannya, Anas bin Nadhar tidak ikut serta dalam perang Badar. Lalu beliau berkata: “Aku telah absen pada awal peperangan Rosululloh melawan orang-orang musyrik, kalau saja Alloh memberikan kesempatan untuk ikut serta dalam peperangan melawan orang-orang musyrik, sungguh Alloh akan melihat apa yang akan aku perbuat. Ketika perang Uhud meletus, pasukan kaum Muslimin kewalahan, lalu ia berkata: “Ya Alloh sesungguhnya aku meminta udzur kepada-Mu dari apa yang telah diperbuat oleh sahabatku dan aku berlepas diri dari apa yang telah didatangkan oleh orang-orang musyrik.

Kemudian beliau berjalan dan bertemu dengan Sa’ad bin Mu’adz di balik gunung Uhud, lalu berkata: “Ya Sa’ad, demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, sesungguhnya aku mencium bau surga di balik Uhud! Sa’ad berkata: “Ya Rosululloh, aku tidak mampu melakukan apa yang telah ia perbuat.” Anas berkata: “Maka kami menemukannya (Anas bin Nadhar) di antara mayat-mayat yang terbujur dengan 80 lebih luka dari sabetan pedang, tusukan tombak, dan lemparan anak panah.” Ia berkata: “Dan kami tidak mengenalinya hingga saudara perempuannya mengetahui ruas-ruas jariya. Anas berkata: “Maka kami memahami bahwa ayat ini, “Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Alloh. Maka, di antara mereka ada yang gugur dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu serta mereka tidak merubah (janjinya)” turun berkenaan dengan kepribadian Anas bin Nadhar dan teman-temannya.



Tidak ada komentar