PRINSIP-PRINSIP AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH BAG. II


PRINSIP-PRINSIP AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH BAG. II


1.  Al Iman terdiri dari empat unsur yaitu perkataan hati, perbuatan hati, perkataan lisan dan perbuatan anggota badan.
Perkataan hati adalah ilmu syar’i yang dipercayai oleh seseorang dan perbuatan hati adalah keadaan hati yang dilahirkan oleh perkataan hati seperti takut dan cinta kepada Alloh subhanahu wata’ala, cinta Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam, Sahabat-nya radhiallahu ‘anhum dan kaum muslimin, benci kepada kekufuran dan kuffar (orang-orang kafir), tawakal dan lain-lainnya. Sedangkan perkataan lisan seperti syahadatain, istigfar, tasbih, da`wah dan lain-lain. Dan perbuatan anggota badan seperti sholat, shoum, haji, infaq dan lain-lain.

2.  Iman bisa berkurang dan bertambah. Berkurang dengan berkurangnya kapasitas unsur-unsurnya dan bertambah dengan bertambahnya kapasitas unsur-unsurnya atau berkurang dengan kema’siatan dan bertambah dengan keta’atan. Setiap unsur-unsur dari unsur-unsur iman disebut juga iman (dengan syarat tidak ada satu unsurpun yang absen) dan ketika salah satu unsur dari unsur-unsur tersebut tidak ada sama sekali atau bagian terdasar dari suatu unsur tidak ada atau terjadi salah satu pembatal iman, runtuhlah iman dengan seluruh unsur-unsurnya.

3.  Seseorang yang bersyahadatain adalah Muslim sampai terbukti kekufurannya.
Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia, hingga dia mengucapkan/bersyahadat bahwa tidak ada Ilah kecuali Alloh subhanahu wata’ala dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Alloh subhanahu wata’ala.” (HR. Bukhari, no.25; dan Muslim, no.22)

4.  Ahlussunah beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Alloh subhanahu wata’ala yang dijelaskan di dalam al-Qur’an dan Sunnah tanpa merubah-rubahnya atau menolak sebagiannya atau menentukan hakikatnya atau menyamakan dengan makhluk-Nya. Ahlus Sunnah juga menyangkal semua sifat atas Alloh subhanahu wata’ala yang disangkal Alloh subhanahu wata’ala dan Rosul-Nya dan di waktu yang sama mengambil sikap diam terhadap sifat dan nama yang tidak ditetapkan atau pun disangkal oleh wahyu.

Nama-nama Alloh subhanahu wata’ala tidak diketahui batas bilangannya, sebagian telah dikhabarkan kepada kita dan sebagiannya lagi tidak dikhabarkan kepada kita. Sebuah kata (demikian juga dengan sifat) mempunyai tiga rukun, yaitu: lapadz, arti dan hakikat. Contoh: kata “kepala” lapadznya adalah “k-e-p-a-l-a” artinya adalah “bagian yang jadi ikutan bagian-bagian lainnya”. Sedangkan hakikatnya yaitu bentuk, isi, warna dan lain-lain adalah berbeda menurut pemilik kepala tadi. Kepala manusia berbeda dengan kepala sekolah dan berbeda dengan kepala kereta walaupun lapadz dan artinya sama.

Alloh subhanahu wata’ala mengkhabarkan pada kita lapadz sifat-sifat-Nya dan kita mengerti artinya, tetapi ketika Alloh subhanahu wata’ala tidak mengkhabarkan kepada kita hakikat dari sifat itu, maka kita pun tidak bisa mengetahuinya dan tidak boleh sama sekali mempertanyakannya atau menerka-nerka atau pun membayang-bayang kannya. Yang kita ketahui adalah sifat itu mempunyai hakikat yang sempurna, mulia, agung dan tidak menyerupai apapun dari sifat makhluk-makhluk-Nya.

5.  Penerapan hukum Alloh subhanahu wata’ala sebagai satu-satunya undang-undang yang memayungi kehidupan bermasyarakat dan bernegara adalah suatu kewajiban mutlaq yang besar.

6.  Ahlussunnah memberikan wala’ (loyalitas) yang mutlak (sepenuhnya) kepada Alloh subhanahu wata’ala dan Rosul-Nya subhanahu wata’ala. Memberikan wala’ yang mutlak kepada kaum muslimin dalam jihad mereka melawan kuffar dan munafiqin.

Wala` kepada pribadi-pribadi muslim berbeda kapasitasnya dari suatu pribadi muslim dengan muslim lainnya menurut ketaqwaan dan jauh-dekatnya pribadi-pribadi itu dari manhajul haq. Wala` kepada seorang pribadi muslim bisa ter campurkan dengan baro’ nisbi menurut bobot ma`siatnya serta jauhnya dari manhaj yang haq. Ahlus Sunnah berbaro' (melepaskan diri) mutlak dari kuffar dan kekufuran.

7.  Ahlussunnah beriman akan adanya malaikat dengan sifat-sifat dan nama-nama yang dijelaskan di dalam al-Qur’an dan Hadits-hadits Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam.  (Lihat: QS. al-Baqoroh: 177 & 285)

8.  Ahlussunnah beriman bahwasannya Alloh subhanahu wata’ala telah mengutus Rosul-rosul-Nya kepada setiap umat dengan Tauhid. Ahlussunnah pun bersaksi bahwa para Rosul yang mulia itu telah menyampaikan risalah Alloh subhanahu wata’ala dan menunaikan amanah mereka. (Lihat: QS. an-Nahl: 36)

9.  Muhammad Ibnu Abdillah   adalah Rosul (utusan) Alloh subhanahu wata’ala terakhir dan   tidak ada nabi dan rosul sesudahnya sampai hari kiamat. Setiap pengakuan nabi atau rosul sesudahnya adalah dusta belaka. Barangsiapa yang beriman kepada siapa pun yang mengaku nabi atau rosul sesudahnya, orang itu telah keluar dari Islam. Barang-siapa yang menganggap adanya kebolehan ber-ibadah kepada Alloh subhanahu wata’ala dengan selain syari’at beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, maka orang itu telah  kafir. Siapa yang keluar dari syari’at beliau, berarti dia telah keluar dari Islam. (Lihat: QS. al-Ahzaab: 40) & (QS. an-Nisaa’: 65)

Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya, pada umatku akan ada 30 orang pendusta yang semuanya mengaku sebagai nabi, padahal aku adalah penutup para nabi yang tidak ada nabi sesudahku”. (HR. Imam Ahmad, no.22269)

10.  Ahlussunnah beriman kepada Qodarulloh, bahwasanya seluruh yang baik maupun yang buruk hanya dari Alloh subhanahu wata’ala saja.
Empat rukun Qodar:
a.  Bahwasannya Alloh subhanahu wata’ala Maha Mengetahui segala-galanya. Ilmu Nya adalah azali, tidak pernah didahului oleh kejahilan. Mengetahui apa-apa yang akan, sedang dan sudah terjadi. Mengetahui apa-apa yang tidak akan terjadi, bagaimanakah terjadinya kalau seandainya hal itu terjadi. {Lihat: Qs.Al Baqoroh: 231, Qs. An Nisa: 176, Qs. Al An’am: 28}

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rosululloh saw di tanya tentang anak-anak kaum musyrikin (yang mati sejak kecil), maka beliau pun bersabda: “Alloh Maha Tahu apa yang akan mereka perbuat (kalau mereka tidak mati kecil)”. (HR. Bukhori, no.1294; Muslim, no.4810; An Nasai, no.1925; Abu Daud, no.4088; dan Ahmad, no.1748).
Pengetahuan Alloh tentang apa-apa yang akan terjadi, menunjukan dengan pasti bahwa hal-hal yang akan terjadi sudah tertentukan.

b.  Percaya bahwa Alloh l telah menuliskan semua hal-hal yang akan terjadi di Lauhul Mahfudz. {Qs. Al Hajj: 70 & {Qs. Fathir: 11}
Abdullah Bin Amr’ Bin Al ’Ash meriwayatkan bahwasanya Rosululloh saw bersabda: “Alloh menuliskan qodar setiap makhluk lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi dan Ia pun bersabda: Dan `Ars-Nya berada di atas air”. (HR. Muslim, no.4797; Tirmidzi, no.2082; dan Ahmad, no.6291)

c.  Bahwasanya kehendak Alloh pasti terwujud. Tidak ada satu kehendak lain pun yang mungkin terwujud jika berlainan dengan kehendak Alloh. Apa-apa yang dikehendaki Alloh pasti terwujud dan apa-apa yang tidak dikehendaki Alloh tidak akan pernah terwujud. {Lihat: Qs.At Takwir: 29} {Qs. Al An’am: 111} {Qs. Yaasin: 82}

d.  Percaya bahwa Alloh-lah pencipta segala sesuatu. Tidak ada sesuatupun yang bukan ciptaan Alloh, termasuk manusia, kehendak manusia dan amal manusia. {Lihat: Qs. Az Zumar [39]: 62} {Qs. As Soffat [37]: 96}

Dalam masalah qodar, Alloh mempunyai dua hukum:
1)  Hukum qodar (Kauni): hukum ini pasti terlaksana dan terwujud atas makhluk-makhlukNya. Kita tidak mengetahui tentang hukum ini, kecuali setelah terlaksana. Kewajiban kita menghadapi hukum ini adalah beriman kepadanya dan menerimanya. Kita tidak boleh berdalih dengan hukum ini sebelum hukum ini terjadi, karena kita tidak mengetahui sebelumnya. Kalau yang terjadi adalah kebaikan, maka kita syukuri hal itu. Kalau yang datang adalah keburukan, maka kita terima dan kita sabari serta tidak menyalahkan Sang Pencipta.

2)  Hukum syari’ah: Yaitu hukum-hukum agama yang harus kita laksanakan. Hukum ini adalah kehendak (tuntutan) Alloh dari kita. Kewajiban kita terhadap hukum ini adalah mengimani dan melaksanakannya semaksimal mungkin, tanpa berdalih dengan qodar untuk meninggalkannya.


Tidak ada komentar